Metode Belajar Perspektif Psikologi dan Al-Qur’an

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Belajar mengajar adalah dua aspek yang merupakan kesatuan dalam sebuah interaksi yang bertujuan untuk mengembangkan dan membina kemampuan intelektual, emosional, moral dan spiritual peserta didik. Belajar sendiri memiliki definisi yang sangat beragam, namun secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah proses atau usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru serta perubahan perilaku. Sedangkan mengajar dimaksudkan sebagai proses “transfer ilmu atau pengajaran” kepada peserta didik.

Ilmu psikologi dengan berbagai ‘mazhab’ di dalamnya memiliki berbagai teori yang memjelaskan bagaimana berlangsungnya proses belajar, termasuk juga metode yang digunakan. Masing-masing mazhab psikologi mempunyai teori yang berbeda secara  fundamental dalam memandang proses belajar. Hal ini berangkat dan tak lepas dari asumsi dan pendapat mazhab-mazhab tersebut tentang manusia dan kepribadiannya.

Sementara dalam Islam, ada sepenggal kutipan Hadits Qudsi yang sebaiknya mendapat perhatian kita bersama :

“…Selanjutnya ialah seorang lelaki yang belajar sesuatu ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca al-Quran, ia didatangkan, lalu diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat diperolehnya dan ia juga dapat melihatnya. Allah berfirman: “Apakah amalan yang sudah engkau kerjakan sehingga engkau dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?” Orang itu menjawab: “Saya belajar sesuatu ilmu dan sayapun mengajarkannya, juga saya membaca al-Quran untuk mengharapkan keridhaanMu.” Kemudian Allah berfirman: “Engkau berdusta, tetapi sesungguhnya engkau belajar ilmu itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang alim, juga engkau membaca al-Quran itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang pandai dalam membaca al-Quran dan memang engkau telah dikatakan sedemikian itu. Selanjutnya orang itu disuruh minggir dan diseret atas mukanya sehingga dilemparkanlah ia ke dalam api neraka….”  (Riwayat Muslim)

Secara tersirat muncul sebuah konsep dalam Islam mengenai pandangannya tentang proses belajar ; yakni tidak hanya sebagai proses lahiriah belaka, namun lebih jauh –ternyata- membutuhkan dan menuntut aspek batiniah untuk mengambil peran.

  1. Rumusan Masalah

1. Bagaimana metode belajar dalam perspektif Psikologi?

2. Bagaimana metode belajar dalam perspektif Al-Qur’an?

  1. Tujuan

1. Untuk menjelaskan metode belajar dalam perspektif Psikologi

2. Untuk menjelaskan metode belajar dalam perspektif Al-Qur’an

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Telaah Teks
    1. Definisi
    2. Secara Etimologi

Menurut kamus bahasa indonesia, Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

  1. Secara Terminologi

Ada banyak ahli yang mendefinisikan makna belajar, diantaranya adalah:

1)      Slameto (Hadis, 2006) menyatakan bahwa belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari perilaku individu itu sendiri dalam interaksi indiividu dengan lingkungannya”

2)      Moeslichatoen (Hadis, 2006) mengartikan belajar sebagai proses yang membuat terjadinya proses belajar dan perubahan itu sendiri dihasilkan dari usaha dalam proses belajar

3)      Cronbach (dalam Hadis, 2006) menyatakan belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman

4)      Geoch (dalam Hadis, 2006) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan dalam perfomansi sebagai hasil dari praktek.

5)      Chaplin dalam Dictionary of Psychology merumuskan bahwa belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman

6)      Wiitig (dalam Syah, 1999) mendefiniskan belajar sebagai perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.

  1. Indikator

Dengan merujuk kepada beberapa pengertian secara harfiah dari belajar berikut pendapat para tokoh, maka dapat ditarik bahwa subtansi dari konsep belajar ialah proses yang tertuju pada perolehan pengetahuan terutama perubahan perilaku yang dihasilkan dari pengalaman.

  1. Pola Teks Psikologi

Ada berbagai macam pengertian belajar menurut beberapa tokoh dan aliran psikologi. Yakni sebagai berikut :

1)      Behaviorisme : belajar adalah proses yang melalui kondisioning operan, dengan kata lain, belajar terjadi bila perubahan aspek tingkah laku dapat teramati, juga perubahan tersebut dikarenakan adanya pengaruh (stimulus) berupa peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar diri individu. Skinner, salah satu tokoh penting dalam aliran behaviorsme berpendapat bahwa belajar adalah “…a process of progressive behavior adaptation” . sedangkan Edward Lee Thorndike mengartikan belajar sebagai peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Thorndike juga dikenal dengan teorinya trial and error. Teori belajar ini disebut teori “connectionism”. Pavlov, pionir mazhab ini menilai Belajar sebagai suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.

2)      Kognitif : menurut sebagian dari ahli teori ini berpendapat bahwa belajar adalah serangkaian proses yang berlangsung secara serempak, yakni pertama, proses perolehan informasi baru, kedua, proses transformasi pengetahuan, dan ketiga, yakni proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. Sementara Piaget, salah satu tokoh psikologi kognitif melalui perkataannya “…children have a built-in desire to learn” menyimpulkan bahwa belajar adalah kebutuhan yang pada dasarnya sudah melekat pada diri individu.

3)       Humanisme: aliran psikologi yang sering dikatakan bersifat “over optimistik” ini, memandang belajar sebagai  fungsi keseluruhan dari pribadi. Belajar adalah proses memperoleh pengetahuan baru yang didorong oleh rasa ingin tahu yang alami yang melibatkan aspek intelektual dan emosional peserta didik.

4)      Belajar sosial (Social Learning) : teori yang dicetuskan oleh Bandura ini menyatakan bahwa belajar adalah aktivitas meniru perilaku orang lain dan pengalaman vicarious (seolah mengalami sendiri), yakni belajar dari kegagalan dan keberhasilan orang lain.

  1. Pembahasan Teori

Bagian ini akan menguraikan lebih jauh pandangan empat teori besar psikologi mengenai konsep belajar.

       I.            BEHAVIORISME

Seperti yang telah diuraikan pada sub-bab di atas, bahwa behaviorisme adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Behaviorisme memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan.Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.

Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mengutamakan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. Lebih jauh, akan diuraikan pandangan utama dari beberapa tokoh behaviorisme mengenai konsep belajar.

  • Edward Lee Thorndike

Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, ada eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, dan ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.

  • Ivan Pavlov

Pavlov mengembangkan strategi  yang mengungkapkan  individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Teorinya ia sandarkan pada eskperimennya terhadap anjing. Dalam percobaan ini, anjing diberi stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank.

Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.

  • Skinner

Skinner menganggap reward dan rienforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning.

Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli.Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.

 

    II.            HUMANISME

Berbeda dengan Behaviorisme, Humanisme kurang menaruh perhatian pada mekanisme proses belajar. Tidak seperti behaviorisme yang menganggap proses belajar pada manusia bersifat mekanistik layaknya hewan, humanisme meyakini proses yang lebih kompleks dari itu; yakni manusia membutuhkan aspek  intelektual dan emosional dalam belajar. Belajar menurut teori ini, adalah aktivitas yang dihasilkan atau muncul dari dorongan rasa ingin tahu manusia yang bersifat naluriah. Selain itu teori ini menyakini beberapa asumsi terkait pembelajaran, yakni:

i.            Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan siswa.

ii.            Belajar dapat ditingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar.

iii.            Belajar secara partisipatif jauh lebih efektif daripada belajar secara pasif dan orang belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri.

iv.            Belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran maupun perasaan akan lebih baik dan tahan lama.

v.            Kebebasan, kreativitas, dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri sendiri dan evaluasi dari orang lain tidak begitu penting.

Selanjutnya, menurut teori ini, Belajar menekankan pentingnya isi dari proses belajar yang tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi teori humanisme dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatnya masing-masing di depan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan. Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Metodenya sendiri adalah mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur, dan positif. Penerapannya sendiri menggunakan materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan. Misalnya guru memberi motivasi,kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa, dan evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa. Dan siswa sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai poses pengalaman belajarnya sendiri. Satu kekurangan teori ini, yakni terlalu memberi kebebasan pada siswanya.

 

 III.            PSIKOLOGI KOGNITIF

Menurut teori ini, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif.. Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil pertemuan dari dua kekuatan, yaitu yang berasal dari struktur medan kognitif itu sendiri dan lainnya berasal dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Dengan demikian, pertama motivasi lebih penting dari pada Reward atau hadiah. Jean Piaget, salah satu tokoh yang banyak mencetuskan pandangan mengenai perkembangan kognitif, menyatakan bahwa dalam proses “memahami dunia” secara aktif, anak-anak menggunakan skema, yakni sebuah konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran seseorang yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan suatu informasi. Fokusnya adalah, bagaimana anak mengorganisasikan dan memahami pengalaman mereka. Dalam mengadaptasi skema yang dimilikinya, seseorang melewati dua proses: asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah suatu proses mental yang terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. sedangkan akomodasi, diartikan sebagai proses mental yang terjadi ketika anak menyesuaikan diri dengan informasi baru. Piaget sendiri memandang guru sebagai fasilitator dan pembimbing, bukan pengatur; memberikan dukungan untuk anak agar mengeksplorasi dunia mereka dan menemukan pengetahuan.

 IV.            BELAJAR SOSIAL

Teori Belajar sosial, atau disebut juga teori kognitif sosial (social cognitive theory) mengungkapkan bahwa faktor sosial dan kognitif, serta faktor perilaku, kesemuanya memerankan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif bisa berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan, sedang faktor sosial mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya. Salah satu tokoh yang berperan penting sebagai arsitek teori ini adalah Albert Bandura. Ia mengembangkan model determinisme resiprokal yang dapat digambarkan seperti di bawah ini:

 

 

Perilaku (P)

 

 

 

 

Person/kognitif (P/K)                                      lingkungan (L)

 

Menurut Bandura, ketiga faktor ini dapat saling berinteraksi dalam mempengaruhi pembelajaran; faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi lingkungan, faktor person (orang/kognitif) mempengaruhi perilaku, dan seterusnya.  Di samping itu, Bandura juga mencetuskan konsep pembelajaran observasional, yang dikenal dengan imitasi atau modelling. Yakni pembelajaran yang diakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain sehingga kadang-kadang disebut belajar dengan pengajaran langsung. Pola bahasa, gaya pakaian, dan musik dipelajari dengan mengamati tingkah laku orang lain. Modelling dapat terjadi, baik dengan “direct reinforcement” maupun dengan “vicarious reinforcement”. Sekolah misalnya, seseorang yang menjadi idola kita menawarkan produk tertentu di layar TV. Kita akan merasa senang jika bisa memakai produk serupa. Sangat mungkin kita belajar meniru karena di-reinforced untuk melakukannya. Hampir sebagian besar anak mempunyai pengalaman belajar pertama termasuk reinforcement langsung dengan meniru model (orang tuanya). Hal yang biasa jika kita mendengar bahwa seorang anak akan dengan bangga mengatakan, bahwa ia telah mengerjakan sebagaimana yang telah dikerjakan orang tuanya.

a)      Garis Besar Konsep Belajar Menurut Psikologi

Dengan menganalisa dari penjabaran teori-teori belajar yang telah ditelurkan oleh beberapa aliran psikologi, maka kita dapat menyimpulkan bahwa teori-teori psikologi di atas bersifat “saling menyempurnakan”, misalnya saja, teori behaviorisme yang menekankan belajar sebagai proses yang mekanistis dengan keyakinannya pada metode kondisioning yang mereka anggap sebagai cara manusia mendapatkan pengalaman dan pengetahuannya, “disempurnakan” oleh teori humanistik yang menyatakan bahwa belajar juga membutuhkan aspek intelegensi dan emosional (dalam segi positif) dari seorang peserta didik. Teori-teori tersebut di atas masing-masing memiliki fokus utama yang berbeda mengenai faktor penting yang mendukung pembelajaran. Sebagai contoh, teori psikologi kognitif menekankan pentingnya fungsi kognitif dalam proses pembelajaran, sedangkan teori belajar sosial menyatakan bahwa cara pembelajaran yang paling efektif adalah melalui modelling. Sehingga bisa ditarik garis besar dari teori-teori di atas bahwa  Psikologi memandang belajar sebagai aktvitas mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru melalui mekanisme yang dapat dirancang sedemikian rupa dengan tetap memperhatikan aspek kognitif dan emosional.

b)      Telaah Teks Al-Qur’an

Menurut Dr. Muhammad Utsman Najati, sebagaimana teori psikologi kontemporer barat, Islam juga memiliki konsep yang hampir mirip dengan metode belajar dari teori-teori tersebut. Di dalam bukunya The Ultimate Psychology, Najati mengemukakan beberapa teori Barat mengenai belajar dan bagaimana Islam menjelaskannya. Sebagai contoh, teori imitasi (modelling) ia kemukakan bersama sebuah perkataan Rasulullah Saw, “kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ar-Rasyidin! Berpeganglah kalian padanya dengan sangat kuat” (HR. Abu Dawud). Selain metode imitasi, Najati juga membahas beberapa konsep atau metode belajar lain yang bersumber dari Psikologi Barat yang kemudian ia jabarkan dalam sudut pandang al-hadits. Metode-metode tersebut antara lain adalah Trial and error, dan conditioning. Namun lebih jauh dalam telaah teks ini, sebisa mungkin kami menghindari menggunakan teori psikologi Barat untuk dicari korelasinya dengan konsep Islami (Al-Qur’an).

Selanjutnya konsep Islam mengenai Belajar yang telah kami himpun dari telaah teks Al-Qur’an  dan juga hadits adalah sebagai berikut.

Menggunakan metode bil-hikmah

Allah swt berfirman,

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benear-benar telah dianugerahi karunia yang banyak” (Q.S Al-Baqarah : 269)

 

Sedangkan Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seorang muslim memberikan hadiah yang lebih utama kepada saudaranya dibanding kata-kata hikmah yang menambah petunjuk baginya atau menolak bencana” (H.R al-Baihaqi). Dalam kesempatan yang berbeda Rasulullah saw bersabda, dari Abdullah bin Mas’ud ra “tidak ada iri kecuali pada dua hal; seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu ia menguasainya dengan cara menghabiskannya dalam kebenaran, dan seseorang yang diberi hikmah oleh Allah lalu ia memutuskan sesuatu dengannya dan mengajarkannya” (HR. Bukhari-Muslim). Imam Nawawi mensyarahkan hadits ini sekaligus memberi pengertian akan kata “hikmah”, yakni “makna hadits (di atas)  ituadalah tidak ada iri yang disukai kecuali dua sifat itu dan segala yang berada dalam makna keduanya. Dan hikmah adalah segala sesuatu yang mencegah dari kebodohan dan memperingatkan dari sesuatu yang tercela”  dalam uraian yang lain beliau mengungkapkan bahwa “hikmah adalah ibarat tentang ilmu yang memiliki hukum-hukum yang mencakup pengenalan terhadap Allah Swt, disertai oleh pengaruh akal, perbaikan jiwa, pendalaman terhadap kebenaran dan mengamalkannya, serta menentang syahwat dan kebatilan. Sedangkan hakim adalah orang yang memiliki sifat-sifat di atas”

Al-Qur’an puluhan kali menyebut kata hikmah di setiap ayatnya dengan makna yang berbeda-beda. Sebagai contoh,

Q.S An-Nahl: 125 berbunyi:

 

 

 

 

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”

 

Hikmah disini diartikan sebagai perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara hak dan yang batil. Sedangkan QS. As-Shaad : 20 berbunyi :

 

 

 

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmahdan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan”

 

Pada tafsir ayat ini, hikmah yang dimaksud adalah kenabian, kesempurnaan ilmu dan ketelitian amal perbuatan.  Selain kedua ayat di atas, ada beberapa ayat lagi yang berbeda penafsiran mengenai kata hikmah, di ayat lain hikmah bisa berarti kefahaman Al-Qur’an dan sunnah, pendalaman agama, dan pelajaran dari kisah-kisah terdahulu. Namun pada intinya kesemua penafsiran itu tetap merujuk kepada satu makna; hikmah adalah kepahaman yang diberikan oleh Allah swt kepada seseorang untuk memustuskan atau mengajarkan sesuatu dengannya. Sebagai contoh, berikut ini beberapa perkataan yang mengandung hikmah dari Rasulullah saw:

“orang yang bahagia adalah yang dapat mengambil pelajaran dari selain dirinya” (HR. Ibnu Majah)

“kebaikan itu banyak, namun sedikit pelakunya” (HR. Ibnu Uday)

 

Menggunakan metode uswah (teladan)

Allah swt berfirman :

 

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Mumtahanah : 6)”

 

Meminjam sebuah perkataan, bahwa “agama itu diajarkan melalui tindakan, bukan Cuma perkataan”. Hal ini dapat kita temui di dalam sunnah Rasulullah Saw, dimana selain beliau mengajarkan manusia dengan nasihat, beliau Saw juga mendidik ummatnya dengan tindakan konkrit yang beliau lakukan. Firman Allah Swt:

 

 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S Al-ahzab :21)”

 

Sebagai contoh, dikisahkan bahwa walaupun kedudukan Rasulullah Saw adalah pemimpin yang paling agung dan dimuliakan oleh Ummat, namun ketika tiba di rumahnya, beliau tetaplah bersikap layaknya suami dan ayah yang baik bagi keluarga beliau Saw.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah?” Ia radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

 

Saat mengetahui riwayat di atas, kita pantasnya malu (terutama bagi orang-orang yang memangku jabatan yang prestisius) jika masih bersikap sombong dan enggan melakukan sesuatu yang nampaknya tidak pantas dilakukan. Namun Inilah contoh ketawadhu’an dan sikap rendah hati yang dimiliki oleh Nabi kita, dan inilah yang kami maksud dengan teladan, dimana seringkali pelajaran melalui tindakan akan lebih mengena daripada sekedar kata-kata.

  • § Menggunakan perumpamaan-perumpamaan (al-amtsal)

Di  bawah ini adalah beberapa ayat Al-Qur’an yang menyertakan perumpamaan di dalamnya

 

 

 “Allah Telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan (Q.S Ar-Rad :11)”

 

Allah mengumpamakan yang benar dan yang bathil dengan air dan buih atau dengan logam yang mencair dan buihnya. yang benar sama dengan air atau logam murni yang bathil sama dengan buih air atau tahi logam yang akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia.

Selain itu:

 

 

 

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Dari kedua ayat di atas, kita dapat mengambil pelajaran, bahwasanya:

  1. Allah swt memberikan perumpamaan agar manusia lebih mudah memahami maksud Al-Qur’an secara sederhana.
  2. Disamping itu, Allah swt dengan sangat indah meletakkan dasar-dasar sains dari ayat-ayatnya, sepeti QS. An-nur : 35 di atas yang menyinggung mengenai astronomi
  3. Dengan menggunakan perumpamaan, Allah swt “memancing” manusia untuk berfikir, dan menggunakan akalnya. Karena sesungguhnya sesuatu yang diperoleh dari proses pencarian yang panjang itu cenderung lebih berbekas daripada yang langsung didapatkan dari orang lain. Misalnya, dengan Allah swt membiarkan manusia berfikir, dan saat manusia menemukan hikmah yang tersembunyi dari ayat-ayat penciptaan langit dan bumi, lalu hal tersebut ia dapati ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan modern, maka imannya akan semakin mantap terhadap Islam.

Kita semua telah mengetahui bahwa masing-masing manusia dianugrahi kemampuan yang berbeda-beda, khususnya dalam hal intelegensi. Dimana ada yang mampu dengan mudah menangkap pelajaran, ada juga yang harus berulang kali berusaha mendapatkan pemahaman tersebut. Rasulullah saw sendiri seringkali mengulang-ulang kata-katanya sebanyak 3 kali agar semua sahabat bisa memahaminya dengan jelas. Dengan perumpamaan, sesuatu yang awalnya abstrak, dapat saja dimengerti seperti halnya sesuatu yang konkrit. Contohnya, kisah pak Yunsirno, pendiri Kampoenk Jenius saat beliau duduk di bangku SMA. kala itu, beliau dan teman-temannya  mendapat tugas menghafal rumus-rumus kimia. kemudian sang guru berkata pada seisi kelas “semua rumus kimia ini terdapat unsur alkohol didalamnya, nah..sebagai muslim, kita tidak boleh mengkonsumsi alkohol baik sedikit maupun banyak…dst” maka setelah itu Pak Yun bersama teman-temannya berusaha sekuat tenaga untuk menghapalkan rumus-rumus kimia itu, takut-takut jika ternyata menjadi campuran bahan makanan yang mereka konsumsi. akhirnya dengan motivasi sang guru dengan menanamkan pemahaman praktis pada anak didiknya, mereka jadi mampu memahami serta menghapalkan rumus-rumus kimia tersebut tanpa adanya kesulitan yang berarti.

Mementingkan aspek psikologis dalam belajar

Aspek psikologis disini mencakup hal-hal yang menyangkut masalah emosional, maksudnya bagaimana di saat belajar, kita dapat menciptakan – lalu mempertahankan emosi yang baik. Merujuk hal itu, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

        i.  Sabar dalam belajar

Diriwayatkan bahwa para tabiin adalah orang-orang yang sangat kuat kesabarannya dalam menuntut ilmu. Hal itu terlihat dari kesungguhan mereka dalam menempuh perjalanan yang sangat jauh, bahkan hingga mereka harus berpindah kota maupun negeri yang berbeda “hanya untuk” mendengarkan sebuah hadits dari para sahabat Rasulullah Saw yang tersisa. Al-Qur’an banyak menyebut kata “sabar”, namun ada beberapa ayat yang mengindikasikan perlunya sikap sabar dalam menuntut ilmu, yakni di beberapa ayat di surat Al-Kahfi, yang menceritakan kisah Nabi Musa as yang melakukan perjalanan bersama Nabi Khidir as demi menggali ilmu darinya. Firman Allah Swt:

#y‰y`uqsù #Y‰ö6tã ô`ÏiB !$tRϊ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu‘ ô`ÏiB $tRωZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã ÇÏÎÈ tA$s% ¼çms9 4Óy›qãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #’n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Y‰ô©â‘ ÇÏÏÈ tA$s% y7¨RÎ) `s9 yì‹ÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #ZŽö9|¹ ÇÏÐÈ y#ø‹x.ur çŽÉ9óÁs? 4’n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #ZŽö9äz ÇÏÑÈ tA$s% þ’ÎT߉ÉftFy™ bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (65) Musa Berkata kepada Khidhr: “Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang Telah diajarkan kepadamu?”(66) Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku (67) Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (68) Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”(69)”

Melalui beberapa ayat di atas, di saat Nabi Musa as dengan keingintahuannya atas ilmu Nabi Khidir ‘memaksa’ Nabi Khidir as untuk memperkenankan dirinya ikut dalam perjalanan,  kita juga dapat mengambil kesimpulan bahwa rasa ingin tahu itu penting untuk mendorong kemauan belajar.

Memberikan motivasi secara implisit maupun eksplisit

 “  Dan perumpamaan-perumpamaan Ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Q.S Al-Ankabuut :43)”

 

Ayat di atas adalah motivasi yang Allah swt letakkan secara implisit, dimana yang memahami perumpamaan-perumpamaan dari Allah swt (ilmu-Nya) hanyalah orang-orang yang berilmu. Hal ini berarti jika ingin mengetahui rahasia dari Ilmu Allah, maka kita harus menjadi orang yang berilmu (menuntut ilmu)

 

 “ Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (Q.S Al-Mutafifin: 26)”

 

Beberapa ayat sebelum ayat di atas menceritakan mengenai kenikmatan di surga. Disini Allah swt menempatkan motivasi dari-Nya secara eksplisit, dimana Allah swt mengemukakan goal yang akan didapatkan oleh manusia jika ia mengusahakan (berlomba-lomba dalam) kebaikan.

Pelajaran yang dapat diambil adalah, hendaknya para pendidik dalam kegiatan mengajar senantiasa memotivasi murid-muridnya, karena manusia cenderung akan lebih giat berusaha jika ia tahu tujuan yang akan dicapainya. Dalam sebuah pepatah, seseorang tidak akan bisa hidup tanpa visi walaupun untuk esok hari.

      ii.  Menggunakan mekanisme yang baik

Yang dimaksud mekanisme yang baik disini adalah berupa pelajaran yang baik. (al-mau’idzah al-hasanah)

 

 

 

 

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”

 

    iii.  Menggunakan perkataan yang baik.

Firman Allah Swt:

 

 

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tundukdalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinyadan ucapkanlah perkataan yang baik (Q.S Al-Ahzab: 32)

 

 

 

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik (Q.S An-Nisa’: 8)

 

     iv.  Melontarkan Pujian

Firman Allah Swt:

 

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di duniadan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Q.S Ali-Imran: 148)

 

Pujian dapat menjadi suplemen, yang membuat orang yang ‘terkena’ pujian semakin giat melakukan hal-hal positif. jika para behavioris menyebutnya dorongan sekunder dalam teori stimulus-respon, Islam sendiri juga memiliki konsep mengenai hal ini melalui teladan kita, Nabi Muhammad saw. dalam tarbiyahnya, Rasulullah pernah memuji beberapa sahabatnya secara khusus, seperti Rasulullah saw yang memuji Abu Bakar dalam sabdanya tentang seseorang yang menafkahkan sepasang binatang -yakni dua ekor kuda, lembu ataupun unta- fi sabilillah, maka ia akan dipanggil dari semua pintu surga. Abu Bakar r.a. berkata: “Biabi anta wa ummi ya Rasuiullah, tidak ada kerugian sama sekali bagi seseorang yang telah dipanggil dari pintu-pintu itu, tetapi apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Ya, ada dan saya mengharapkan agar anda termasuk dalam golongan orang yang dipanggil dari segala pintu tadi.” (Muttafaq ‘alaih) atau ucapan Rasulullah saw mengenai keutamaan Ali kw, beliau berkata “aku kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya. barang siapa menghendaki ilmu, hendaklah datang dari pintunya” atau perkataan beliau terhadap Umar ra, ketika beliau memuji ketiga sahabatnya (Abu Bakar, Umar dan Ali), maka untuk Umar ra. beliau berkata “jika kalian menjadikan Umar sebagai pemimpin, kalian akan menemukan dia seorang yang kuat, amanah, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut celaan orang yang suka mencela”

Masih banyak lagi sanjungan-sanjungan Rasulullah, untuk mensifati beberapa sahabat beliau. dan efeknya sangat nampak pada sikap para sahabat tersebut, Abu bakar ra disebut sebagai orang yang paling dermawan, hingga Umar ra. memujinya, ketika umar menginfakkan 1/2 dari hartanya, Abu Bakar menginfakkan seluruhnya. kata beliau (umar) “tidak ada yang menyaingi kedermawanan Abu Bakar”

pujian Rasulullah saw juga tidak salah tertuju pada Ali kw, pada umur 20 tahun dirinya sudah menjadi pembawa panji Rasulullah di perang Badar. otaknya luar biasa cerdas, balaghahnya indah, dan memiliki keluasan hikmah. ia menguasai banyak ilmu, seperti fikih, hisab, zuhud, tasawuf, ilmu kalam, dan lain-lain. beliau juga selalu menjadi rujukan khalifah-khalifah sebelum dirinya untuk menetapkan hukum.

Sedangkan Umar, keberaniannya sudah sangat masyhur. Michael Hart menempatkannya dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia. ia memuji Umar ra: “Keberhasilan `Umar betul-betul mengesankan. Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan tokoh utama dalam hal penyerbuan oleh Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat, diragukan apakah Islam bisa tersebar luas sebagaimana dapat disaksikan sekarang ini”

Mengulang-ngulang Pelajaran

Jika merujuk teori kelupaan, kehilangan memori jangka pendek dapat diakibatkan karena tidak adanya pengulangan (mengingat-ingat) informasi yang telah diterima. Allah swt mengulang-ngulang perumpamaan dan peringatanNya kepada manusia agar manusia mau berpikir.

 

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya). (Q.S Al-Israa: 89)

 

“Dan sesungguhnya dalam Al Quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).” (Q.S Al-Israa: 41)

 

Selain itu, pengulangan juga bisa berarti penegasan akan ancaman Allah swt :

“Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu (34), kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu” (Q.S Al-Qiyamah: 34-35)

“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?(17) Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?(18)” (Q.S Al-Infithaar: 17-18)

 

Menggunakan hati (qalb) untuk memahami

Firman Allah Swt :

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Q.S Al-A’raaf: 179)

Ada sebagian orang yang mengartikan kata quluub pada ayat di atas secara realistis sebagai “akal” atau “sistem memori” yang tempatnya di dalam otak, bukan di jantung atau di dalam hati manusia.

Namun kami lebih sepakat jika kata quluub pada ayat di atas diartikan sebagai “hati”, karena kata “akal” sendiri seringkali terdapat pada kalimat yang mengharuskan seseorang untuk menggunakan pikirannya dan tidak bersama dengan kata “quluub” ataupun “qalb”. Misalnya saja:

“Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal” (Q.S Asy-Syu’araa: 28)

Pada ayat di atas, kata “ta’qiluun” adalah akar kata dari “aql”, maka  kata“akal” lebih cocok ditujukan kepada “aql”.

Ilmu yang dihasilkan oleh hati, menurut Imam Al-Ghazali, memiliki beberapa tingkatan. Ada yang melalui bimbingan dari guru atau ulama dengan cara -seperti pada umumnya- menempuh proses hukum sebab akibat dan dengan ketekunan dalam belajar. Namun ada pula yang memang merupakan kehendak langsung dari Allah Swt. yang kedua inilah yang sering terjadi pada para Nabi, seperti firman  Allah Swt :

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. (Q.S Al-An’am: 75)

 

    V.            ANALISIS KONSEPTUAL

Berdasarkan telaah teori-teori Psikologi dan teks Al-Qur’an (ditambah dengan hadits), maka perbandingan konsep Al-Qur’an dan teori Psikologi kontemporer Barat adalah sebagai berikut :

Perbandingan

Islam

Psikologi Barat

Instrumen Hati dan akal akal
Metode Uswah, bil hikmah, bil amtsal Kondisioning (behaviorisme), skema (kognitif), modeling (Belajar sosial), partisipasi aktif (humanisme)
Aspek yang aktif Kognitif, afektif, psikomotorik, spiritual Kognitif, afektif, psikomotorik
Tujuan Taqwa Self Actualization

 

VI.            RUMUSAN KONSEPTUAL

Dari analisis di atas, maka didapatkan beberapa rumusan konseptual mengenai belajar dalam pandangan Islam. Yang pertama, dalam Islam, instrumen (alat) untuk mendapatkan pengalaman atau pengetahuan baru adalah akal dan hati. Akal (al-aql) berfungsi menjelaskan sesuatu lebih kepada ranah yang lebih umum dan praktis dan hanya mampu menjangkau hal-hal empiris , sedangkan hati (qalb) mampu memahami sesuatu secara lebih mendalam, baik hal-hal yang sifatnya fisik (empiris) maupun metafisik. akal mengelola informasi yang didapatkan melalui suatu proses, sedangkan hati menerima ilmu yang melalui suatu proses maupun ladunni. Kedua, secara metode, Islam menggabungkan metode Uswah, bil hikmah, dan bil amtsal (seperti yang berhasil kami himpun), dimana ketiga metode itu mencakup pendayagunaan potensi manusia. Misalnya saja, Uswah mendayagunakan potensi psiko-motorik, bil-hikmah menggunakan potensi afektif dan spiritual, sedangkan bil-amtsal mendayagunakan potensi kognitif manusia.

Ketiga, seperti yang dijelaskan sebelumnya, Islam mengembangkan semua potensi manusia dalam pembelajaran, baik itu kognitif, afektif, psiko-motorik dan spiritual, dan yang terakhir ini (spiritual) tidak dikembangkan secara baik bahkan tidak sama sekali pada teori Psikologi kontemporer Barat. Terakhir, tujuan, yaitu aspek fundamental dari sebuah proses belajar (tholabul ilmi) dalam Islam adalah meraih ketaqwaan. Karena dalam Islam, yang menjadi perhatian khusus dalam belajar adalah prosesnya, lalu bagaimana ilmu tersebut diamalkan untuk kemaslahatan. Ilmu tanpa amal maka sia-sia, namun jika ilmu bersama amal, maka Allah swt memberikan penghargaan khusus, apalagi jika ilmu yang diperoleh dapat menghasilkan ketaqwaan dan bertambahnya iman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  • Kesimpulan

Dari berbagai macam pengertian belajar menurut beberapa aliran psikologi. Sebagai berikut :

1)      Behaviorisme : Belajar adalah proses yang melalui kondisioning operan, dengan kata lain, belajar terjadi bila perubahan aspek tingkah laku dapat teramati, juga perubahan tersebut dikarenakan adanya pengaruh (stimulus) berupa peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar diri individu.

2)      Kognitif : Menurut Piaget, salah satu tokoh psikologi kognitif melalui perkataannya “…children have a built-in desire to learn” menyimpulkan bahwa belajar adalah kebutuhan yang pada dasarnya sudah melekat pada diri individu.

3)       Humanisme Belajar adalah proses memperoleh pengetahuan baru yang didorong oleh rasa ingin tahu yang alami yang melibatkan aspek intelektual dan emosional peserta didik.

4)      Belajar sosial (Social Learning) : Bandura belajar adalah aktivitas meniru perilaku orang lain dan pengalaman vicarious (seolah mengalami sendiri), yakni belajar dari kegagalan dan keberhasilan orang lain.

Firman Allah Swt:

#y‰y`uqsù #Y‰ö6tã ô`ÏiB !$tRϊ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu‘ ô`ÏiB $tRωZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã ÇÏÎÈ tA$s% ¼çms9 4Óy›qãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #’n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Y‰ô©â‘ ÇÏÏÈ tA$s% y7¨RÎ) `s9 yì‹ÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #ZŽö9|¹ ÇÏÐÈ y#ø‹x.ur çŽÉ9óÁs? 4’n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #ZŽö9äz ÇÏÑÈ tA$s% þ’ÎT߉ÉftFy™ bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (65) Musa Berkata kepada Khidhr: “Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang Telah diajarkan kepadamu?”(66) Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku (67) Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (68) Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”(69)

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim

Imam Nawawi. Ringkasan Riyadus Shalihin. 2006. Irsyad Baitus Salam: Bandung

Imam Al-Ghazali. Ringkasan Ihya Ulumuddin. 2008. Akbar: Jakarta

Al-Habib Zain bin Sumaith. Thariqah Alawiyah. 2009. Rabithah Alawiyah: Jakarta

Utsman Najati, Muhammad. The Ultimate Psychology. 2008. Pustaka Hidayah: Bandung

Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. 1991. Logos: Jakarta

Hadis, Abdul. Psikologi dalam Pendidikan. 2006. Alfabeta: Bandung

Solso, R.L, Maclin, O, dan Maclin, K. Psikologi Kognitif. 2007. Erlangga: Jakarta

Santrock, John W. Psikologi Pendidikan. 2010. Kencana: Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s